Sebanyak 600 Hektar Sawah di Desa Bou Gagal Panen,Ketua Komisi 2 DPRD Koltim Kunjungi Langsung Sawah yang Kekeringan,Suprianto Dorong Program Inpres Jaringan Irigasi Air Tanah Sebagai Solusi Bagi Petani

banner 468x60

Kolaka Timur, Tagsultra.com Hamparan sawah yang seharusnya menghijau dan menjadi sumber harapan petani di Desa Bou, Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur, kini berubah menjadi pemandangan yang memprihatinkan.

Tanaman padi tampak mengering dan menguning akibat minimnya pasokan air. Dari sekitar 1.000 hektare areal persawahan di Desa Bou, sekitar 600 hektare dilaporkan mengalami kekeringan hingga berujung gagal panen.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam produksi pangan, tetapi juga menghantam langsung ekonomi para petani. Modal yang telah dikeluarkan, tenaga yang dicurahkan, hingga harapan mendapatkan hasil panen harus berhadapan dengan ancaman kerugian besar.

Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kolaka Timur, Suprianto, ST., MT, turun langsung menemui kelompok tani di Desa Bou, Minggu (9/8/2026).

Suprianto melihat langsung kondisi tanaman padi yang mengering sekaligus mendengarkan keluhan petani mengenai persoalan ketersediaan air yang menjadi salah satu faktor utama terjadinya gagal panen.

Menurut Suprianto, persoalan yang dihadapi petani Desa Bou tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan gagal panen pada satu musim tanam. Lebih jauh, kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk membangun sistem pengairan pertanian yang mampu memberikan kepastian kepada petani.

“Saya datang langsung ke Desa Bou karena menerima laporan dan keluhan dari para petani. Setelah melihat sendiri kondisi sawah, kita bisa memahami bahwa persoalan air ini sangat serius. Ini bukan hanya soal tanaman yang mengering, tetapi menyangkut modal, pendapatan dan kehidupan keluarga petani,” ujar Suprianto.

Ia menegaskan, salah satu solusi yang akan didorong adalah pemanfaatan JIAT atau Jaringan Irigasi Air Tanah.

Menurutnya, JIAT dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu menyediakan sumber air bagi lahan pertanian, terutama pada wilayah yang menghadapi keterbatasan air permukaan dan rawan kekeringan.

“Kita akan memperjuangkan agar Desa Bou bisa mendapatkan perhatian melalui program JIAT, yaitu Jaringan Irigasi Air Tanah. Ini salah satu solusi yang harus kita dorong untuk membantu petani mendapatkan kepastian air, terutama ketika menghadapi musim kering,” tegasnya.

Suprianto menyebut perjuangan terhadap kebutuhan irigasi petani tersebut sejalan dengan semangat pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, pembangunan jaringan irigasi dan penyediaan air untuk pertanian memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda Asta Cita, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Asta Cita Presiden Prabowo Subianto menempatkan ketahanan pangan sebagai bagian penting dari arah pembangunan nasional. Karena itu, kita di daerah harus menangkap program-program tersebut dan memperjuangkannya agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” katanya.

Suprianto menjelaskan, keberadaan JIAT diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada petani, terutama dalam membantu menyediakan air untuk kebutuhan budidaya pertanian.

Dengan tersedianya sumber air melalui jaringan irigasi air tanah, petani diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi hujan maupun ketersediaan air permukaan.

“Tujuannya jelas, bagaimana petani mendapatkan air yang cukup untuk sawahnya. Kalau air tersedia, petani bisa menanam dengan lebih tenang, produktivitas bisa dijaga dan risiko gagal panen akibat kekeringan dapat ditekan,”jelasnya.

Ia menambahkan, perjuangan tersebut tidak akan berhenti pada penyampaian aspirasi. DPRD Kolaka Timur akan mendorong koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait agar kebutuhan petani Desa Bou dapat diperjuangkan melalui program yang tepat.

“Apa yang kami lihat hari ini akan kami bawa dan komunikasikan. Kita ingin ada langkah konkret. Jangan sampai setiap musim kemarau petani kembali menghadapi persoalan yang sama. Kita harus membangun solusi jangka panjang,” tegas Suprianto.

Sementara itu, salah seorang petani Desa Bou, Ambase, mengapresiasi kehadiran Ketua Komisi II DPRD Kolaka Timur yang turun langsung melihat kondisi sawah dan bertemu dengan petani.

Menurut Ambase, kedatangan Suprianto memberikan harapan bagi petani agar persoalan kekeringan yang mereka alami tidak hanya menjadi laporan, tetapi benar-benar mendapatkan jalan keluar.

“Kami berterima kasih karena Pak Suprianto mau datang langsung melihat kondisi kami. Kami berharap persoalan air ini benar-benar diperjuangkan, karena yang kami butuhkan adalah solusi agar sawah kami bisa mendapatkan air,” ujar Ambase.

Ia mengatakan, gagal panen membuat petani mengalami kerugian karena biaya pengolahan lahan dan kebutuhan pertanian telah dikeluarkan sejak awal musim tanam.

“Kami sudah keluar biaya dan tenaga. Kalau padi tidak bisa dipanen karena kekeringan, tentu kami yang rugi. Kami berharap ada jaringan irigasi yang bisa membantu kami, supaya ke depan tidak lagi mengalami kondisi seperti ini, harapnya.

Ambase juga menyambut baik rencana memperjuangkan JIAT untuk Desa Bou.

“Kalau JIAT bisa masuk ke sini dan airnya bisa dimanfaatkan untuk sawah, tentu sangat membantu kami. Kami berharap ini benar-benar diperjuangkan sampai terealisasi, bukan hanya menjadi rencana,” katanya.

Suprianto menegaskan bahwa persoalan kekeringan di Desa Bou menjadi pengingat bahwa pembangunan sektor pertanian tidak cukup hanya berbicara mengenai produksi dan harga hasil panen.

Menurutnya, ketersediaan air merupakan fondasi utama pertanian. Tanpa air yang memadai, berbagai program peningkatan produksi pangan akan sulit mencapai hasil maksimal.

“Kita bicara ketahanan pangan, tetapi jangan lupa bahwa ketahanan pangan itu dimulai dari sawah petani. Kalau petani kesulitan air, bagaimana kita mau meningkatkan produksi? Karena itu infrastruktur pertanian, khususnya irigasi, harus menjadi perhatian serius,” pungkasnya.

Ia berharap perjuangan melalui JIAT dapat menjadi salah satu langkah konkret untuk menyelamatkan produktivitas lahan pertanian di Desa Bou sekaligus memberikan perlindungan kepada petani dari ancaman kekeringan pada musim-musim berikutnya.

Kini, di tengah 600 hektare sawah yang mengering, harapan petani Desa Bou bertumpu pada hadirnya solusi nyata. Bagi mereka, air bukan sekadar kebutuhan tanaman,air adalah penentu apakah sawah bisa kembali hijau, panen bisa kembali berlangsung, dan dapur keluarga petani tetap mengepul.(Red)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *