Oleh: Suprianto,ST.,MT,Ketua Komisi 2 DPRD Kolaka Timur dan Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Kolaka Timur
Saya petani. Saya tahu persis kapan tanah harus dicangkul. Saya hafal kapan benih harus ditanam. Saya kenal bau lumpur lebih dari parfum kota. Tangan saya kapalan karena cangkul, punggung saya hitam karena matahari.
Tapi ada satu hal yang sampai hari ini saya tidak pernah tahu: berapa harga panen saya besok?
Inilah ironi paling pekat di negeri agraris ini. Kami, petani, adalah sosok yang paling tahu cara menumbuhkan kehidupan dari tanah, tapi kami dibuat menjadi manusia yang paling buta terhadap harga kehidupan kami sendiri. Kami dikhianati oleh sistem yang kami beri makan.
1. Kami Menanam Hari Ini, Tapi Kami Berjudi Dengan Nyawa Setiap Hari
Coba tanyakan pada pengusaha mana pun di Jakarta, adakah bisnis yang modalnya keluar dulu, tenaganya terkuras dulu, risikonya ditanggung sendiri, tapi harga jualnya ditentukan orang lain? Tidak ada. Kecuali bisnis kami: menjadi petani.
Kami mengeluarkan modal untuk benih, kami berhutang untuk pupuk yang langka, kami begadang mengusir hama, kami berdoa agar hujan tidak menghancurkan sawah. Kami menanggung semua risiko. Tapi ketika panen tiba, kami tidak punya hak menentukan harga.
Kami diposisikan sebagai price taker sejati. Apa itu? Artinya kami hanya bisa menerima. Berapapun harga yang dilempar tengkulak, pengumpul, dan korporasi, kami harus tunduk. Kalau tidak, anak kami tidak makan hari itu. Saat panen raya dan harga anjlok, kami tidak bisa melawan. Kami hanya bisa melepas padi, jagung, kakao kami dengan harga yang bahkan tidak balik modal. Ini bukan pasar, ini pemerasan yang dilegalkan.
2. Kami Mencangkul di Kolaka Timur, Tapi Harga Kami Ditentukan di London dan Chicago
Ini pengkhianatan yang lebih menyakitkan.
Kopi yang saya tanam di lereng Kolaka Timur, jagung yang saya panen di tanah subur Sulawesi, sawit yang tetangga saya rawat dengan darah dan keringat, nasib harganya ditentukan bukan di desa kami, tapi di bursa asing: di London, di Chicago, di Rotterdam.
Bagaimana mungkin? Tanahnya tanah kami, cangkulnya cangkul kami, keringatnya keringat kami, tapi yang menentukan harganya adalah spekulan berdasi di meja-meja mewah ribuan kilometer dari sawah kami?
Kami menanggung kerugian global, mereka mengeruk keuntungan global. Kami yang kelaparan, mereka yang berpesta. Sistem ini sengaja dibuat buta, agar petani tetap buta. Petani dibuat menjadi budak di tanahnya sendiri.
3. Rantai Pasok Itu Rantai Penjajah: Siapa Yang Untung Dari Keringat Kami?
Selama ini kami dipanggil pahlawan pangan. Pahlawan pangan? Jangan beri kami lipstik retorika itu!
Lihat rantai pasok kami. Dari tangan saya ke pengumpul kecil, ke pengumpul besar, ke tengkulak, ke pabrik, ke supermarket. Setiap rantai itu ada yang mengambil untung. Semakin jauh dari tangan saya, semakin tebal kantong mereka. Semakin jauh dari sawah, semakin kurus tubuh kami.
“Jangan sampai petani menjadi pihak yang paling tidak tahu harga dari hasil yang mereka tanam sendiri.” Kalimat ini harusnya menjadi tamparan keras bagi negara.
Saya bertanya dengan lantang sebagai Ketua Komisi 2 dan sebagai Ketua Tani Merdeka: untuk siapa sebenarnya pertanian ini dibangun? Untuk petani atau untuk para perantara yang menghisap darah petani?
MENGAKHIRI ERA PETANI BUTA HARGA: KAMI BUTUH KEDAULATAN, BUKAN PUJIAN
Sudah cukup! Sudah terlalu lama negara hadir hanya saat butuh suara petani, tapi menghilang saat petani butuh kepastian harga.
Saya tidak butuh seremoni Hari Tani. Petani Kolaka Timur tidak butuh spanduk dan pidato. Yang kami butuhkan adalah keadilan dan kedaulatan atas harga.
Maka saya menuntut dengan tegas:
Pertama, Bangun Pusat Acuan Harga Nasional yang Berpihak Pada Petani, Bukan Pada Korporasi.* Buat harga yang transparan, harga yang bisa dilihat petani di sawah, bukan harga yang disembunyikan di bursa asing. Jangan biarkan harga kopi dan jagung kami dijajah oleh London dan Chicago!
Kedua, Optimalkan Sistem Resi Gudang (SRG) yang Terdigitalisasi Sampai ke Gadget Petani.Beri kami kekuatan untuk menunda jual saat harga jatuh. Selama ini petani dipaksa jual murah karena tidak punya gudang dan tidak punya akses informasi. Jika SRG digital ini ada di HP petani, kami bisa melawan tengkulak. Kami bisa bilang: “TIDAK, saya tidak jual murah hari ini, saya simpan dulu.”
Petani tidak bodoh. Petani tahu cara mencangkul tanah yang paling keras. Yang membuat petani terlihat bodoh adalah sistem yang sengaja membuat kami buta harga.
Kembalikan kedaulatan harga kepada kami. Karena tanpa kedaulatan harga, tidak akan pernah ada kedaulatan pangan. Dan tanpa petani yang berdaulat, negeri ini hanya akan menjadi negeri yang kenyang sesaat, tapi lapar selamanya.
Hormat saya untuk setiap petani yang tetap mencangkul meski dikhianati.









