Oleh : Suprianto.S.T.,M.T. Ketua Komisi 2 DPRD Kab.Kolaka Timur.Fraksi Partai Gerindra.
Ketua DPC Tani Merdeka Indonesia (DPC TMI) Kab.Kolaka Timur.
Kolaka Timur.Tagsultra.com-Musim kemarau yang datang lebih panjang atau curah hujan ekstrem di luar siklus sering kali dianggap sebagai cobaan alam yang tak terelakkan. Selama bertahun-tahun, sebagian kalangan masih kerap menyalahkan cuaca buruk dan menerima gagal panen sebagai nasib sial semata.
Namun, di tengah laju krisis iklim yang kian tidak menentu, pandangan ini harus segera diubah: gagal panen bukanlah takdir yang mutlak, melainkan sebuah tantangan sistemik yang menuntut langkah adaptasi dan strategi nyata.
Ketika alam mulai menunjukkan anomali Kekeringan berbulan-bulan di tambah hantaman badai El-Nino yg melewati wilayah bagian Asia Tenggara, sikap pasrah hanya akan memperpanjang rantai kerugian petani, sementara ketahanan pangan nasional terus dipertaruhkan.
Memahami Realitas: Perubahan Iklim Bukan Lagi Wacana
Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas pahit yang sedang dirasakan hari ini.
Fenomena global seperti perpanjangan siklus musim kemarau ekstrem dan Badai El-nino mengacaukan kalender tanam tradisional yang selama turun-temurun diandalkan oleh para petani.
Sebagai cerminan nyata dari hantaman krisis ini, kita dapat melihat apa yang terjadi di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara. Akibat kemarau panjang yang dipicu oleh dinamika iklim global, lahan persawahan seluas 2.700 an hektare—khususnya yang berlokasi di Desa Bou seluas 508 hektar, Kecamatan Lambandia—mengalami kekeringan parah hingga berujung pada puso atau gagal total. Kerugian ekonomi yang diderita para petani tidak main-main; diperkirakan mencapai belasan miliar rupiah (menyentuh angka sekitar Rp168 miliar).
Data yang masuk melalui penyuluh dan PPL yang kekeringan 2.700 hektar (baik kekeringan sedang, berat dan kkndisi fuso), jikalau d kalikan rata-rata hasil panen per hektar 7 ton, dikali 1000 kg per Ton, dikali HPP gabah saja sesuai inores Rp 6.500/kg, harga gabah petani, maka petani kehilangan uang di tangannya berkisar 168 milyar di Kabupaten Kolaka Timur, jadi hangus itu uang 168 mimyar, yang seharusnya ada berputar di kolaka timur lewat tangan petani2 untuk membiayai rumah tanggannya,anak-anak sekolahnya dan lain kebutuhan.hal tersebut belum termasuk biaya olah sawah berkisar 5 juta sampai 6 juta an.
Peristiwa di Kolaka Timur ini membuktikan bahwa pergeseran iklim langsung merenggut sumber penghidupan utama masyarakat petani kita di pedesaan dalam sekejap jika tidak diantisipasi dengan tepat.
Strategi Utama Menyelamatkan Panen (Solusi & Inovasi) ;
Belajar dari kasus di Kolaka Timur dan berbagai wilayah agraris lainnya, berserah diri pada cuaca bukan lagi pilihan. Diperlukan langkah-langkah strategis dan taktis untuk memitigasi dampak buruk perubahan iklim dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
1.Manajemen Air Modern dan Infrastruktur Darurat:
Ketika pasokan hujan dari langit terhenti, ketersediaan air irigasi menjadi kunci utama penyelemat.
Pembangunan sumur bor -sumur bor, ketersediaan mesim pompa air, penyediaan tandon air bersih, serta pembuatan embung penampung air hujan harus digalakkan di sentra-sentra produksi pangan.
2.Diversifikasi Tanaman dan Varietas Tahan Kekeringan:
Petani perlu didorong untuk memanfaatkan benih padi varietas unggul yang lebih toleran terhadap kekurangan air atau memiliki umur panen yang lebih pendek agar terhindar dari puncak musim kering.
3.Pemanfaatan Teknologi Informasi Iklim: Mengintegrasikan data dan informasi cuaca dari instansi terkait ke dalam sistem penyuluhan agar petani dapat membaca pola cuaca secara akurat, menentukan waktu tanam yang tepat, dan menghindari risiko kerugian akibat salah prediksi musim.
Kolaborasi Lintas Sektor yang konsisten dan berkelanjutan
Dari Petani hingga Kebijakan
Menghadapi ancaman perubahan iklim tidak bisa dibebankan semata-mata di pundak petani.
Diperlukan sinergi erat lintas sektor dimana Peran Pemerintah Daerah dan Instansi Terkait : Seperti langkah cepat yang ditunjukkan dalam penanganan di Kolaka Timur, agar kekeringan yang sampai hari ini tulisan saya telah mencapai 2.700 hektar, keterlibatan aktif Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pertanian sangat krusial dalam memetakan wilayah terdampak agar tidak semakin meluas, menyalurkan bantuan darurat, serta merancang infrastruktur jangka panjang.
Selain itu penting melaksanakan Penguatan Kelompok Tani seperti Penyuluhan intensif di tingkat akar rumput untuk mengedukasi petani mengenai teknik pertanian adaptif iklim (climate-smart agriculture).
Pemerintah pusat dan daerah mengambil langkah cepat bagi yang telah terdampakKebijakan Afirmatif dimana Kehadiran skema asuransi pertanian yang melindungi petani dari risiko kerugian total, sehingga mereka memiliki bantalan finansial untuk bangkit kembali pada musim tanam berikutnya.
Kasus kekeringan dan gagal panen seluas 2.700 an hektare di Kolaka Timur seharusnya menjadi lonceng peringatan sekaligus pelecut semangat bagi kita semua. Perubahan iklim memang sebuah keniscayaan global, tetapi dampak buruknya bukanlah takdir yang tidak bisa dihindari. Dengan pergeseran pola pikir, penerapan strategi mitigasi air yang handal, serta kolaborasi lintas sektor yang kokoh, sektor pertanian kita dapat dibuat lebih tangguh. Ketahanan pangan masa depan ditentukan oleh tindakan kolektif yang kita ambil hari ini, bukan oleh kepasrahan menghadapi cuaca.
