Kolaka Timur, Tagsultra.com-Reses masa sidang I tahun 2026 yang digelar Ketua Komisi I DPRD Kolaka Timur, Eka Saputra, ST, menghadirkan pendekatan yang berbeda dari reses-reses sebelumnya. Tidak lagi dilakukan secara gabungan, kali ini pertemuan masyarakat dipisahkan berdasarkan kelompok, yakni kelompok tani, anak-anak muda, serta tokoh perempuan yang tergabung dalam organisasi WHDI.
Langkah ini dilakukan agar setiap kelompok memiliki ruang yang lebih leluasa untuk menyampaikan aspirasi tanpa rasa sungkan atau terhalang dominasi kelompok lain. Selain itu, reses kali ini juga menjadi yang pertama kalinya dilaksanakan dengan membawa semangat Program ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah) sebagainan Intruksi Bapak Presiden Prabowo Subianto.

Reses dilaksanakan di dua lokasi, yakni Kelurahan Ladongi dan Kelurahan Atula, Kecamatan Ladongi, dengan agenda diskusi, penyerapan aspirasi, serta aksi nyata membangun kesadaran menjaga lingkungan.
Menurut Eka Saputra, selama ini pelaksanaan reses yang menggabungkan berbagai kelompok masyarakat dalam satu forum sering membuat aspirasi tidak terserap maksimal. Anak muda cenderung tidak berani berbicara di hadapan tokoh masyarakat, sementara kebutuhan kelompok perempuan sering terabaikan serta aspirasi kelompok petani sering tidak tersampaikan secara detail.

Karena itu, pada reses kali ini setiap kelompok diundang secara terpisah agar mereka memiliki ruang yang lebih nyaman untuk menyampaikan kebutuhan riil di lapangan.
Ia menegaskan bahwa pendekatan ini penting, terlebih dalam kondisi keterbatasan APBD. Pemerintah daerah dan DPRD harus memastikan anggaran yang tersedia benar-benar tepat sasaran dan menyentuh seluruh segmen masyarakat.
Salah satu hal yang membuat reses ini berbeda adalah diawali dengan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan pura di Kelurahan Atula, yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, pemuda, lurah, dan ibu-ibu WHDI.

Kegiatan ini menjadi implementasi langsung Gerakan Nasional Indonesia ASRI, yang menekankan pentingnya kebersihan, kesehatan, keamanan, dan keindahan lingkungan. Eka Saputra menjelaskan bahwa rumah ibadah dipilih sebagai titik awal perubahan pola pikir masyarakat.
Ia menilai kesadaran menjaga kebersihan harus dimulai dari hulunya, yaitu perubahan mindset masyarakat. Melalui peran tokoh agama, pemuda, maupun tokoh perempuan pesan menjaga lingkungan diharapkan terus disampaikan dalam ceramah, dharma wacana, dan aktivitas sosial keagamaan.

Bersama Fraksi Gerindra,ia juga berkomitmen mengatasi persoalan sampah melalui penanganan sampah berkelanjutan berfokus pada pendekatan ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi sumber daya melalui pengurangan, pemilahan, dan daur ulang (3R: Reduce, Reuse, Recycle) guna meminimalkan residu di TPA. Langkah utamanya meliputi pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah tangga, pengomposan, optimalisasi bank sampah, serta pengolahan di TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah-Reduce, Reuse, Recycle). “Kita mulai dari rumah ibadan dan mengajak tokoh agama, perempuan serta generasi muda” tegas Eka.
Pertemuan pertama di Kelurahan Ladongi menghadirkan KTNA dan kelompok tani Kecamatan Dangia. Diskusi berfokus pada kebutuhan mendasar sektor pertanian.
Para petani menyampaikan aspirasi terkait pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi, bendung Dangia, jaringan irigasi air tanah, hingga peningkatan jalan usaha tani. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk mendukung produktivitas pertanian sekaligus mewujudkan cita-cita swasembada pangan nasional.

Masyarakat berharap Kolaka Timur dapat menjadi lumbung pangan Sulawesi Tenggara, sehingga dukungan infrastruktur menjadi kebutuhan prioritas bagi para petani.
Sementara itu,kelompok pemuda turut menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap pengembangan minat dan bakat generasi muda.
Mereka mengusulkan bantuan sarana sanggar seni, alat musik, serta fasilitas penunjang kegiatan kreatif. Selain itu, pemuda Kelurahan Atula juga mengusulkan penataan lapangan sepak bola menjadi alun-alun terpadu yang dilengkapi fasilitas olahraga seperti jogging track, lapangan voli, bulu tangkis, takraw, hingga ruang kebugaran.

Menurut mereka, ruang publik tersebut bukan hanya pusat olahraga, pengembangan UMKM tetapi juga ruang interaksi sosial masyarakat multikultural di Atula yang dikenal sebagai miniatur keberagaman Kolaka Timur. Penataan kawasan ini tentu akan memberikan dampak positif dengan meningkatknya penghasilan pelaku usaha UMKM dan ekonomi lokal.
Selanjutnya,Ketua Fraksi Gerindra DPRD Koltim, Eka Saputra, ST menceritakan bahwa dalam pertemuan khusus perempuan WHDI di Balai Wantilan Kelurahan Atula, aspirasi yang muncul berfokus pada pemberdayaan ekonomi keluarga.

Ibu-ibu berharap dukungan pemerintah dalam pengembangan UMKM, pelatihan keterampilan seperti menjahit, bantuan mesin jahit, serta peluang usaha yang dapat menambah pendapatan keluarga.
Selain itu, mereka juga meminta bantuan pengembangan peternakan sesuai kebutuhan masyarakat, seperti ayam petelur, kambing, maupun babi, lengkap dengan bantuan bibit dan pelatihan.
Eka Saputra menegaskan bahwa seluruh aspirasi masyarakat akan menjadi prioritas perjuangan Fraksi Gerindra. Namun ia juga mengakui keterbatasan APBD membuat tidak semua usulan dapat langsung direalisasikan.
Karena itu, aspirasi masyarakat akan dikawal melalui berbagai skema pendanaan, baik melalui APBD kabupaten, APBD provinsi, maupun APBN. Program yang membutuhkan dukungan pusat, seperti jaringan irigasi dan pembangunan jalan, akan diperjuangkan melalui skema instruksi presiden dan program pembangunan nasional.

Ia kembali menegaskan bahwa komitmen Fraksi Gerindra akan terus mengawal kebutuhan masyarakat koltim hingga terealisasi.
Ketua Komisi I DPRD Kolaka Timur, Eka Saputra, ST, menyampaikan bahwa reses bukan sekadar agenda formal, tetapi momentum mendengar langsung suara rakyat secara utuh.
Ia menyampaikan bahwa pemisahan kelompok dalam reses bertujuan agar setiap segmen masyarakat memiliki ruang yang adil untuk menyampaikan kebutuhan mereka.
Menurutnya, aspirasi masyarakat sangat besar dan menjadi pekerjaan rumah bagi DPRD. Namun dengan keterbatasan anggaran, setiap program harus diprioritaskan secara tepat dan diperjuangkan hingga ke tingkat provinsi maupun pusat.

Ia juga membeberkan bahwa perubahan pola pikir masyarakat terhadap kebersihan lingkungan menjadi kunci keberhasilan Program ASRI. Gerakan ini harus dimulai dari kesadaran kolektif, bukan sekedar kegiatan seremonial.
Dalam rangka mendukung aspirasi masyarakat, Eka Saputra memberikan bantuan langsung kepada sanggar seni Atula-Welala sebesar 1 juta, bantuan untuk majelis adat sebesar total 3 juta, serta bantuan bagi ibu-ibu WHDI sebesar 5 juta Rupiah.

Setelah reses, Eka Saputra juga meninjau langsung warga di Desa Wia-Wia, Kecamatan Poli-Polia, yang memiliki rumah tidak layak huni. Bantuan bedah rumah tengah diproses sebagai bentuk tindak lanjut nyata dari aspirasi masyarakat
Reses masa sidang I tahun 2026 ini menjadi bukti bahwa pendekatan partisipatif, terarah, dan berbasis aksi nyata mampu membuka ruang dialog yang lebih mendalam antara wakil rakyat dan masyarakat, dengan memisahkan kelompok aspirasi, memulai gerakan lingkungan, serta mengawal program hingga tingkat pusat.

Reses kali ini tidak hanya menjadi forum serap aspirasi, tetapi juga langkah konkret menuju pembangunan Kolaka Timur yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan dalam ekosistem argoindustri menuju Kolaka Timur sebagai kabupaten Agro Politan.
Laporan : Jusran













