Kolaka Timur, Tagsultra.com-Dampak kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kolaka Timur mulai dirasakan serius oleh para petani. Ribuan hektare sawah yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Mowewe, Tinondo, Lambandia, Loea, Poli-Polia, Dangia, dan Aere, kini terancam gagal panen akibat kekeringan berkepanjangan yang dipicu fenomena El Nino, serta belum adanya penanganan maksimal dari pihak terkait.
Di tengah kondisi yang semakin memprihatinkan, para petani terpaksa berjuang secara mandiri demi menyelamatkan tanaman padi mereka. Dengan segala keterbatasan, sebagian petani bahkan harus mengeluarkan biaya pribadi untuk melakukan pengeboran sumur sebagai sumber air alternatif, agar sawah tidak sepenuhnya mengering.
Di Kecamatan Mowewe, wilayah terdampak meliputi Desa Ulumowewe, Nelombu, Watupute, Lapangisi, Sabi-Sabila, serta Kelurahan Woitombo, Inebenggi, dan Horodopi. Sementara di Kecamatan Tinondo, kekeringan terjadi di Desa Solewatu, Tawarombadaka, dan Tawa-Tawaro. Kondisi serupa juga dialami Desa Simbalai (Loea), Desa Wande dan Talinduka (Lambandia), serta sejumlah desa lainnya di tujuh kecamatan terdampak.
Tanaman padi yang saat ini berusia sekitar 60 hari terancam mati jika tidak segera mendapatkan suplai air. Para petani diperkirakan mengalami potensi kerugian antara Rp5 juta hingga Rp10 juta per hektare apabila gagal panen benar-benar terjadi.
Para petani mengaku telah menunggu selama kurang lebih dua bulan adanya bantuan dari pemerintah daerah melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Kolaka Timur. Namun hingga kini, bantuan yang diharapkan belum juga terealisasi.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kolaka Timur, Suprianto, ST., MT., secara tegas menyoroti lambatnya respons dinas terkait dalam mengantisipasi dampak musim kemarau.
“Ini bukan persoalan baru, melainkan masalah klasik yang terjadi berulang setiap musim kemarau. Seharusnya ada langkah preventif yang bersifat permanen dari dinas terkait, karena data dan potensi risiko sudah bisa dipetakan sejak awal. Jangan menunggu kondisi semakin parah baru bergerak. Saya meminta tindakan cepat untuk menyelamatkan benih padi petani agar tidak mati karena kekeringan,” tegasnya.
Ia juga meminta Bupati Kolaka Timur untuk segera melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya yang membidangi sektor pertanian.
Menurutnya, terdapat kendala koordinasi antara dinas terkait dan para penyuluh lapangan, yang kini sebagian berstatus sebagai pegawai vertikal kementerian. Hal ini dinilai berdampak pada lambatnya eksekusi program di lapangan, sehingga perlu ada penyelarasan agar program ketahanan pangan dapat berjalan optimal.
“Saya mendukung Bupati untuk mengevaluasi kinerja OPD agar lebih responsif. Jangan sampai petani dibiarkan berjuang sendiri. Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat, terutama dalam kondisi krisis seperti ini,” lanjutnya.
Suprianto juga mengungkapkan bahwa dalam rapat koordinasi penanggulangan bencana kekeringan yang dipimpin Plt. Bupati Kolaka Timur, telah direkomendasikan penetapan status darurat kekeringan. Ia mengapresiasi langkah tersebut, namun menegaskan bahwa implementasi di lapangan harus segera dilakukan.
Ia juga menyoroti belum berjalanannya program unggulan “Listrik Masuk Sawah” (LMS), yang dinilai sangat relevan untuk mengatasi persoalan irigasi. Program tersebut tidak berjalan tahun ini akibat perbedaan pandangan antar dinas terkait mengenai kewenangan penganggaran.
“Program listrik masuk sawah seharusnya menjadi solusi konkret dalam kondisi seperti ini. Sangat disayangkan jika tidak dijalankan, padahal manfaatnya sangat besar bagi petani,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan petani dari Kecamatan Mowewe, Syahrir, mengungkapkan kekecewaannya terhadap minimnya perhatian pemerintah.
“Kami sudah menunggu hampir dua bulan tanpa kepastian. Akhirnya kami terpaksa patungan untuk membuat sumur bor. Kalau tidak, sawah kami sudah kering semua,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan sebelum seluruh tanaman padi mati dan menyebabkan kerugian besar bagi petani.
“Kami tidak butuh janji, kami butuh tindakan nyata. Kalau tidak segera dibantu, kami bisa gagal panen total,” tutupnya
Laporan : Jusran













