Reses DPRD Koltim di Desa Lambotua, Suprianto Tegaskan Komitmennya Perjuangkan Harapan Para Petani

banner 468x60

Kolaka Timur, Tagsultra.com-Harapan masyarakat Desa Lambotua, Kecamatan Mowewe, Kabupaten Kolaka Timur, untuk menikmati akses jalan yang layak kembali mengemuka dalam kegiatan Reses Anggota DPRD Kabupaten Kolaka Timur Masa Sidang II yang digelar pada Senin, 22 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung di kediaman Kepala Desa Lambotua tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Komisi II DPRD Kolaka Timur, Suprianto, ST., MT, bersama jajaran Sekretariat DPRD Koltim, di antaranya Kabag Pengawasan dan Kabag Hukum, Babinsa Desa Lambotua, tokoh masyarakat, serta warga yang hadir lokasi reses.

Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan mewarnai jalannya pertemuan. Bagi masyarakat Lambotua, kehadiran wakil rakyat di desa mereka bukan sekadar agenda rutin DPRD, melainkan momentum penting untuk menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi,terutama terkait infrastruktur jalan yang hingga kini belum mendapatkan perhatian maksimal.

Dalam sambutannya, Suprianto menegaskan bahwa tujuan utama reses adalah mendengar secara langsung aspirasi masyarakat agar dapat diperjuangkan melalui jalur legislatif dan pemerintahan.

“Reses bukan hanya kegiatan formal DPRD. Ini adalah ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan dan harapannya secara langsung kepada kami sebagai wakil rakyat. Apa yang menjadi keluhan dan kebutuhan masyarakat hari ini akan kami catat dan perjuangkan sesuai kewenangan yang kami miliki,” ujar Suprianto.

Pada kesempatan tersebut, Suprianto juga memaparkan sejumlah program pembangunan yang telah berhasil ia kawal bersama pimpinan dan anggota DPRD Koltim selama beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, salah satu bukti nyata perjuangan yang telah dilakukan adalah pembangunan jalan Pasar Desa Sabu-Sabila, Kecamatan Mowewe, yang sebelumnya sempat terancam kehilangan alokasi anggaran.

“Alhamdulillah, bersama teman-teman di DPRD Koltim kami terus mengawal berbagai program pembangunan, baik di tingkat daerah maupun pusat. Salah satu yang berhasil kami perjuangkan adalah pembangunan jalan Pasar Desa Sabu-Sabila. Saat itu saya meminta secara langsung agar anggaran pembangunan jalan tersebut tidak digeser ke lokasi lain karena sangat dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.

Namun demikian, Suprianto mengakui bahwa tantangan pembangunan di Desa Lambotua jauh lebih besar. Aspirasi yang paling banyak disampaikan warga adalah pembangunan akses jalan utama yang selama puluhan tahun belum mendapatkan penanganan memadai.

Ia menjelaskan bahwa kondisi fiskal daerah saat ini sangat terbatas sehingga pembangunan jalan dengan panjang dan kebutuhan anggaran besar membutuhkan dukungan pemerintah pusat.

“Masyarakat Lambotua hari ini menyampaikan satu suara yang sama, yaitu meminta agar akses jalan utama mereka segera dibangun. Saya harus jujur menyampaikan bahwa kemampuan anggaran daerah sangat terbatas. Karena itu saya berkomitmen membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi agar bisa diperjuangkan melalui skema bantuan pemerintah pusat,” katanya.

Suprianto menggambarkan kondisi yang dialami masyarakat Lambotua sebagai persoalan kemanusiaan yang tidak boleh terus dibiarkan.

“Puluhan tahun masyarakat Lambotua hidup dalam keterbatasan akses. Ketika ada warga sakit, mereka harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk mencapai pusat kecamatan. Bahkan ada kondisi di mana jenazah warga harus dipikul dari kota menuju desa karena kendaraan tidak dapat melintas secara normal. Ini bukan hanya persoalan jalan, tetapi menyangkut hak dasar masyarakat untuk mendapatkan akses pelayanan dan kehidupan yang layak,” ungkapnya.

Menurutnya, jalan merupakan urat nadi perekonomian masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan pekebun.

“Petani di Lambotua memiliki potensi besar, tetapi hasil pertanian mereka sering terkendala distribusi akibat buruknya akses transportasi. Akibatnya biaya angkut tinggi, waktu tempuh bertambah, dan nilai ekonomi hasil pertanian menjadi berkurang. Begitu pula anak-anak yang harus menempuh pendidikan di luar desa, mereka setiap hari berjibaku dengan jalan berlumpur, licin dan berlubang. Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama,” tegas Politisi Partai Gerindra tersebut.

Dalam sesi dialog, tokoh masyarakat Desa Lambotua, Hamdi, menyampaikan sejumlah usulan strategis yang dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan warga.

Selain meminta perhatian serius terhadap pembangunan jalan, Hamdi juga mengusulkan program percetakan sawah baru serta pengembangan komoditas kakao yang menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat setempat.

Ia menilai Desa Lambotua memiliki potensi besar yang belum tergarap secara maksimal karena keterbatasan infrastruktur dan minimnya dukungan program pemerintah.

“Kami berharap pemerintah tidak hanya melihat Lambotua dari sisi keterisolasiannya, tetapi juga melihat potensi yang dimiliki desa ini. Kami membutuhkan program percetakan sawah, pengembangan kakao, serta pendampingan agar masyarakat dapat meningkatkan produksi dan kesejahteraannya,” ujar Hamdi.

Lebih jauh, Hamdi juga menyoroti kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Desa Lambotua.

“Desa ini menyimpan warisan budaya yang sangat berharga. Di sini terdapat Rumah Adat To’no Motuo Mekongga, makam para leluhur, hingga pohon durian yang diyakini telah berusia ribuan tahun. Semua ini merupakan aset budaya yang harus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi mendatang. Kami berharap pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian situs-situs budaya tersebut,” katanya.

Menurut Hamdi, jika dikelola dengan baik, potensi budaya dan sejarah Lambotua dapat menjadi daya tarik wisata yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Lambotua, Andi Supriadi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua Komisi II DPRD Kolaka Timur yang bersedia datang langsung melihat kondisi masyarakat di wilayahnya.

Ia mengaku tidak semua pihak bersedia datang ke Lambotua karena medan jalan yang sulit dan membutuhkan perjuangan untuk mencapainya.
“Atas nama pemerintah desa dan seluruh masyarakat Lambotua, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Suprianto yang telah melaksanakan reses di desa kami. Kehadiran beliau menjadi bukti bahwa masih ada perhatian terhadap masyarakat yang berada di wilayah dengan akses yang sangat terbatas seperti Lambotua,” ujarnya.

Andi Supriadi mengatakan bahwa persoalan jalan merupakan kebutuhan paling mendesak yang selama ini dirasakan masyarakat.

“Banyak orang berpikir dua kali untuk masuk ke desa kami karena kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Padahal desa ini memiliki potensi pertanian, perkebunan, dan budaya yang besar. Jika akses jalan diperbaiki, saya yakin pertumbuhan ekonomi masyarakat akan meningkat secara signifikan,” tegasnya.

Ia berharap seluruh aspirasi yang disampaikan dalam reses tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Kami berharap suara masyarakat Lambotua hari ini tidak berhenti sebagai catatan reses semata, tetapi benar-benar menjadi perhatian pemerintah. Kami ingin masyarakat merasakan kehadiran negara melalui pembangunan yang nyata, khususnya akses jalan yang selama puluhan tahun menjadi harapan besar warga,” pungkas Andi Supriadi.

Kegiatan reses ditutup dengan sesi dialog terbuka dan penyerahan berbagai usulan masyarakat yang selanjutnya akan menjadi bahan pembahasan serta perjuangan Suprianto dan anggota DPRD Kolaka Timur pada tingkat daerah maupun pusat. Bagi masyarakat Lambotua, pertemuan tersebut menjadi secercah harapan bahwa mimpi panjang mereka untuk menikmati akses jalan yang layak suatu hari nanti dapat terwujud.(Red)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *